Rabu, 21 Desember 2011

makalah akuntansi


BAB I
 ASET TETAP DAN ASET TIDAK TETAP

1.      KARAKTERISTIK ASET TETAP

Perusahaan membeli dan menggunakan asset tetap, seperti peralatan, perabotan, alat-alat, mesin, gedung, dan tanah. Asset tetap adalah asset yang bersifat jangka panjang atau secara relative memiliki sifat permanen serta dapat digunakan dalamjangka panjang. Asset ini merupakan asset berwujudbkarna memiliki bentuk fisik. Asset ini dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dan tidak dijual sebagai bagian dari kegiatan operasi normal.

v  Penggolongan biaya
Jika barang yang dibeli bersifat jangka panjang, maka barang tersebut harus dikapitalisasi, artinya harus di tampilkan di neraca sebagai asset. Jika bersifat jangka pendek, maka biaya harus dilaporkan sebagai beban di laporan laba rugi. Biaya yang dikapitalisasi biasanya dihaarapkan akan habis selama satu tahun. Jika asset juga digunakan untuk tujuan produktif, yang melibatkan kegunaan atau mamfaat berulang. Maka asset harus digunakan sebagai asset tetap, seperti tanah, gedung atau peralatan. Suatu asset tidak perlu secara teratur untuk menjadi asset tetap. Sebagai contoh, peralatan yang siap digunakan pada saat terjadi kerusakan pada peralatan yang biasa dipakai atau pada saat priode penuh termasuk dalam asset tetap. Asset tetap yang telah ditinggalkan atau tidak digunakan lagi tidak di masukkan sebagai aset tetap.
Aset tetap dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dan tidak ditawarkan untuk dijual kembali. Asset yang bersifat jangka panjang dan disimpan untuk dijual kembali tidak digolongkan sebagai asset tetap. Tetepi harus disajikan di neraca dalam bagian investasi. Sebagai contoh, tanah yang belum dikembangkan dan diproleh sebagai investasi untuk disewakan dan di jual kembali akan di golongkan sebagai investasi, bukan aset tetap.

v  Biaya aset tetap
Biaya perolehan asset tetap mencakup seluruh jumlah yang dikeluarkan untuk mendapatkan asset hingga siap untuk digunakan. Sebagai contoh, biaya pengiriman dabiaya pemasaranperalatan di masukkan sebagai bagian dari jumlah biaya asset. Biaya langsung yang berhubungan dengan pembangunan baru, seperti tenaga kerja dan bahan baku, harus di debitnke akun asset pembangunan dalam proses. Saat pembangunan telah selesai, biaya-biaya hrus di pindahkan kembali dengan mengkreditkan akun pembangunan dalam proses dan mendebitkan asset tetap yang sesuai.
Beberapa biaya yang umum memproleh asset tetap.biaya ini harus di catat dengan mendebit  akun asset tetap, seperti tanah, gedung, pengembangan tanah, atau mesin dan peralatan.
Hanya biaya yang diperlukan untuk menyiapkan asset jangka panjang hingga dapat digunakan yang perlu di masukkan sebagai biaya aset. Biaya-biaya yang tidak perlu dan tidak meningkatkan kegunaan dicatat sebagai beban.
Biaya-biaya berikut ini di catat sebagai beban:
ü  Kejahatan pengrusakan property oleh oknum yang tidak bertanggung jawab
ü  Kesalahan pemasangan
ü  Pencurian yang tidak diasuransikan
ü  Kerusakan selama membuka kemasan mesin dan pemasangannya
ü  Denda karena tidak memproleh izin yang lengkap dari beban pemerintah

v  Pengeluaran modal dan pendapatan
Saat aset tetap diproleh dan siap digunakan, pengeluaran dapat terjadi untuk perawatan dan perbaikan biasa. Pengeluaran juga dapat terjadi untuk meningkatkan nilai aset atau nilai untuk perbaikan luar biasa yang dapat memperpanjang masa kegunaan aset. Pengeluaran yang berguna hanya untuk priode berjalan disebut pengeluaran pendapatan. Pengeluaran yang meningkatkan nilai aset atau memperpanjang masa kegunaan aset disebut pengeluaran modal.
ü  Perawatan dan perbaikan biasa,pengeluaran yang terkait dengan perawatan dan perbaikan aset tetap yang dicatat sebagai beban priode berjalan, di sebut pengeluaran pendapatan dan dicatat sebagai kenaikan pada beban perbaikan dan perawatan
ü  Peningkatan nilai aset setelah aset tetap disiapkan, pengeluaran dapat terjadi untuk meningkatkan nilai aset.
ü  Perbaikan luar biasa setelah aset tetap disiapkan., pengeluaran dapat terjadi untuk memperpanjang masa kegunaan aset.

v  Sewa aset tetap
Sewa adalah perjanjian atas pengggunaan aset selama priode tertentu. Sewa sering kali digunakan dalam bisnis. Contoh kenderaan, computer, peralatan kesehatan, dan gedung.
Dua pihak dalam perjanjian sewa adalah pemberi sewa dan penyewa. Pemberi sewa adalah pihak yang memiliki aset. Penyewa adalah pihak yang diberi hak oleh sewa untuk menggunakan aset. Penyewa diberi kewajiban untuk untuk melakukan pembayaran sewa secara berkala selama masa sewa. Sewa akan dicatat oleh penyewa sebagai sewa modal atau sebagai sewa operasi.
ü  Sewa modal dicatat ketika penyewa seolah-olah membeli aset yang bersangkutan. Penyewa mendebit akun aset sebesar nilai pasar aset dan mengkredit akun kewajiban sewa jangka panjang. Kemudian aset dihapuskan sebagai beban selama masa sewa modal.
ü  Sewa operasi adalah dimana penyewa mencatat pembayaran dalam sewa operasi dengan mendebit beban sewa dan mengkredit kas. Kewajiban sewa dimasa mendatang maupun hak di masa mendatang untuk menggunakan aset yang disewa tidak diakui dalam akun-akun tersebut. Akan tetapi, penyewa harus mengungkapkan komitmen sewa dimasa mendatang di catatan atas laporan keuangan.

2.      Akuntansi untuk penyusutan
Seperti yang telah kita bahas, tanah memiliki masa kegunaan yang tidak terbatas sehingga dapat menyediakan jasa yang tidak terbatas. Disisi lain, aset tetap lainnya seperti peralatan, gedung, dan pengembangan tanah kehilangan kemampuannya untuk memberikan jasa seiring dengan berjalannya waktu. Akibatnya, biaya peralatan, gedung, dan pengembangan tanahperlu dipindahkan kea kun beban secara sistematis selama masa keguaannya. Pemindahan biaya kebeban secara berkala semacam ini disebut penyusutan atau despresiasi
Ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat penyusutan biasanya dibuat setiap akhir bulan pada akir tahun. Ayat jurnal ini akan mendebit beban penyusutan dan mengkredit akun kontra aset bernama akumulasi penyusutan atau penyisihan untuk penyusutan. Penggunaan akun kontra aset memungkinkan biaya awal dalam akun aset tetap tidak berubah.
Faktor yang menyebabkan penurunan kemampuan aset tetap untuk menyediakan jasa dapat diidentifikasi sebagai penyusutan fisik atau penyusutan fungsional. Penyusutan fisik terjadi karena penggunaan dan disebabkan oleh cuaca. Penyusutan fungsional terjadi saat aset tetap tidak lagi dapat menyediakan pada tingkat yang diharapkan.

v  FAKTOR-FAKTOR DALAM MENGHITUNG BEBAN PENYUSUTAN
Terdapat tiga faktor yang menentukan jumlah beban penyusutan yang diakui setiap priode.
a.       Biaya awal aset tetap
b.      Masa kegunaan yang diharapkan
c.       Estimasi nilai pada akir masa kegunaannya.
Ketiga faktor diatas disebut nilai residu atau nilai sisa.
Nilai residu atau nilai sisa aset tetap pada akir masa kegunaan yang diharapkan harus diperkirakan pada saat aset disiapkan untuk menyediakan jasa.
 Jika aset tetap tidak memiliki atau memiliki sedikit nilai residu saat tidak lagi dapat menyediakan jasa, maka biaya awal harus dibagi selama masa kegunaannya sebagai beban penyusutan. Maka selisih diantara biaya awal dan nilai residunya disebut biaya aset yang dapat disusutkan.
Masa kegunaan yang diharapkan dari aset tetap juga harus diperkirakan pada saat aset disiapkan untuk menyediakan jasa. Astimasi masa kegunaan yang diharapkan dapat berasal dari berbagai asosiasi perdagangan dan publikasi lainnya. Dalam praktik, banyak perusahaan menggunakan peraturan yang menyatakan seluruh aset yang disiapkan untuk atau dipindahkan dari penyediaan jasa selama setengah bulan pertama dalam satu bulan dianggap seperti jika hal ini terjadi pada hari pertama bulan tersebut. Perusahaan-perusahaan ini menghitung penusutan aset selama satu bulan penuh. Begitu pula, seluruh penambahan dan pengurangan aset tetap selama setengah bulan kedua dalam satu bulan dianggap seperti jika hal ini terjadi pada hari pertama bulan berikutnya.
Suatu perusahaan tidak perlu menggunakan satu metode untuk menghitung penyusutan untuk seluruh aset yang dapat disusutkan. Metode yang digunakan dalam akun-akun dan laporan keuangan juga dapat berbeda dari metode yang digunakan untuk enentukan pajak penghasilan dan pajak atas tanah dan bangunan.
Tiga metode yang paling sering digunakan dalam menghitung penyusutan
Ø  Metode garis lurus
Metode garis lurus menghasilkan jumlah beban penyusutan yang sama untuk setiap tahun selama masa kegunaan aset.
Untuk memudahkan penerapan metode garis lurus, penyusutan tahunan dapat diubah menjadi persentase terhadap biaya yang dapat disusutkan. Persentase ini ditentukan dengan membagi 100% dengan jumlah tahun masa kegunaan.
Metode garis lurus sederhana dan digunakan secara luas. Metode ini menghasilkan perpindahan yang memadai untuk biaya ke beban priodik saat penggunaan aset dan pendapatan yang terkait dengan penggunaannya kurang lebih sama pada setiap priode.
Ø  Metode unit produksi
Metode unit produksi menghasilkan jumlah beban penyusutan yang sama untuk setiap unit yang diproduksi atau setiap unit kapasitas yang digunakan oleh aset. Untuk menerapkan metode ini, masa kegunaan aset dinyatakan dalam unit kapasitas produktif seperti jam atau mil.
Ø  Metode saldo menurun ganda
Metode ini menghasilkan beban priodik yang semakin menurun selama estimasi masa kegunaan aset. Dalam penerapannya, tingkat saldo menurun ganda ditentukan dengan menggandakan tingkat garis lurus.
Untuk tahun pertama kegunaannya, biaya aset dikalikan dengan tingkat penyusutan saldo menurun ganda. Setelah tahun pertama, nilai buku; yaitu biaya dikurangi akumulasi penyusutan; yang menurun dikalikan dengan tingkat ini.
Saat metode saldo menurun , estimasi nilai residu tidak dipertibangkan dalam menentukan tingkat penyusutan dan menghitung nilai residunya.

v  MEMBANDINGKAN METODE PENYUSUTAN
Seluruh metode membebankan sebagian jumlah biaya aset dalam priode akuntansi, dan tidak tidak pernah menyusutkan aset dibwah nilai residu.
Metode garis lurus menghasilkan jumlah beban penyusutan priodik yang sama selama masa kegunaan aset.
Metode unit produksi menghasilkan jumlah beban penyusutan periodic yang berbeda-beda tergantung jumlah aset yang digunakan.
Metode saldo menurun ganda menghasilkan jumlah penyusutan yang lebih tinggi pada tahun pertama penggunaan aset, diikuti dengan jumlah yang menurun secara bertahap.

v  MENGUBAH ESTIMASI PENYUSUTAN
Mengubah estimasi nilai residu dan masa kegunaan adalah hal yang biasa dilakukan. Estimasi tersebut dapat direvisi untuk menentukan beban penyusutan priode mendatang. Perubahan estimasi tidak akan memegaruhi jumlah beban penyusutan yang dicatat pada tahun-tahun sebelumnya.

3.      PELEPASAN ASET TETAP
Aset  tetap yang tidak berguna lagi dapat dibuang, dijual, atau dipertukarkan dengan aset tetap lainnya. Rincian ayat jurnal untuk mencatat pelepasan tersebut akan berbeda-beda. Akan tetapi, dalam semua kasus, nilai buku aset harus dihapus dari akunnya. Ayat jurnal ntuk kepentingan ini akan mendebit akun akumulasi penyusutan sejumlah saldo pada tanggal pelepasan aset dan mengkredit akun aset sebesar biaya asetnya.
Aset tetap tidak boleh dihapus dari akun hanya karna aset tersebut sudah habis disusutkan. Jika aset masih digunakan oleh perusahaan, biaya dan akumulasi penyusutan tetap dicatat dalam buku besar untuk menjaga akuntabilitas aset dalam buku besar. Jika nilai buku aset dipindahkan dari buku besar, akun tidak akan menyimpan bukti keberadaan aset yang masih berlangsung. Selain itu, data biaya dan akumilasi penysutan untuk aset tersebut sering kali masih dibutuhkan untuk keperluan menghitung pajak bangunan dan pajak penghasilan.
v  MEMBUANG ASET TETAP
Saat aset tetap tidak lagi berguna bagi perusahaan dan tidak lagi memiliki nilai residua tau nilai pasar, aset tersebut akan dibuang. Sebagi ilustrasi, diasumsikan bahwa peratan yang diproleh dengan biaya Rp 25.000.000 telah habis disusutkan per 31 desember, akir tahun fiscal sebelumnya. Ayat jurnal untuk mencatat peralatan yang dibuang pada tanggal 14 februari adalah sebagai berikut.
Feb. 14 akumulasi penyusutan –peralatan                                    25.000.000
                    Peralatan                                                                                                           25.000.000
                                Menghapus peralatan yang dibuang

Jika aset belum disusutkan, penyusutan harus dicatat sebelum pemindahan aset tersebutdari penyediaan jasa dan dan dari catatan akuntansi.

v  PERTUKARAN ASET TETAP YANG SERUPA
Peralatan yang lama sering kali dipertukarkan dengan peralatan baru dengan kegunaan yang serupa. Dalam hal ini, penjual memperbolehkan pembeli menentukan harga untuk peralatan lama yang dipertukarkan. Jumlah ini, disebut penyisihan pertukaran, dapat menjadi lebih besar atau lebih kecil dari nilai buku peralatan yang lama. Sisa saldo—jumlah yang terutang—dapat dibayarkan dengan uang tunai atau dicatat sebagai kewajiban.
ü  Laba atas pertukaran, aset tatap yang serupa tidak diakui untuk keperluan pelaporan keuangan. Hal ini didasarkan pada tiori bahwa pendapatan berasal dari produksi dan penjualan barang yang diproduksi oleh aset tetap, dan bukan bukan dari pertukaran aset tetap yang serupa.
ü  Rugi atas pertukaran, untuk keperluan pelaporan keuangan, rugi atas pertukaran aset tetap yang serupa diakui jika penyisihanpertukaran lebih kecil daripada nilai buku peralatan yang sama. Saat terjadi rugi, biaya yang dicatat untuk aset baru harus merupakan harga pasar.
















BAB II
KEWAJIBAN LANCAR DAN PENGGAJIAN

1.      KEWAJIBAN LANCAR
Saat sebuah perusahaan atau bank memberikan fasilitas kredit, sama artinya dengan memberikan pinjaman. Perusahaan, bank, atau individu yang memberikan pinjaman disebut kreditor. Individu atau perusahaan yang menerima kredit disebut debitor. Utang merupakan kewajiban untuk membayar yang dicatat sebagai kewajiban atau liabilitas. Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban dengan priode jatuh tempo lebih dari satu tahun. Contoh kredit berjangka waktu 10 tahun untuk membeli gedung kantor. Sebaliknya, kewajiban lancar merupakan kewajiban yang akan dibayarkan dari aset lancar dan jatuh tempo dalam waktu singkat.
Tiga jenis kewajiban lancar adalah utang usaha, bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam jangka pendek, dan wesel bayar.
Ø  Utang usaha
Utang usaha berasal dari pembelian barang atau jasa untuk digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan atau untuk membeli persediaan barang untuk dijual kembali.
Ø  Bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam jangka pendek
Kewajiban jangka panjang sering kali dibayarkan dalam pembayaran periodic, yang disebut ansuran atau cicilan. Serupa dengan kredit pembelian kendaraan bermotor. Ansuran kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun mendatang setelah tanggal neraca harus diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar. Total jumlah ansuran yang jatuh tempo setelahnya akan diklasifikasikan sabagai kewajiban jangka panjang.

Ø  Wesel bayar jagka pendek.
Wesel bayar dapat diterbitkan untuk membeli barang dagangan atau aset lainnya. Wesel tersebut juga dapat diterbitkan untuk kreditor guna melunasi utang usaha si penerbit wesel untuk sementara waktu.

2.      GAJI DAN PAJAK PENGHASILAN
Kita semua telah mengenal istilah gaji. Dalam akuntansi, istilah gaji mengacu pada jumlah yang dibayarkan atas jasa-jasa yang telah disediakan selam priode tertentu. Masalah gaji dalam sebuah perusahaan biasanya merupakan hal yang cukup signifikan karena beberapa alasan. 
Pertama, karyawan sensitive terhadap kesalahan dan ketidakteraturan dalam hal pembayaran gaji. Mempertahankan moral karyawan yang baik membutuhkan pembayaran gaji yang tepat waktu, dengan dasar yang akurat.
Kedua, pembayaran gaji bergantung pada berbagai peraturan pemerintah pusat dan local.
Ketiga, gaji dan pajak pennghasilan terkait memiliki pengaruh signifikan terhadap laba bersih bagi kebanyakan perusahaan. Meskipun besarnya beban gaji sangat bervariasi, biasanya gaji dan beban yang terkait dengan gaji jumlahnya mendekati sepertiga pendapatan perusahaan.

v  KEWAJIBAN UNTUK PENGHASILAN KARYAWAN
Gaji dan upah yang dibayarkan pada karyawan merupakan beban tenaga kerja bagi pemberi kerja. Istilah gaji biasanya mengacu pada pembayaran untuk tenaga kerja bagian manajerial, administrasi, atau jasa kantoran sejenis. Besaran gaji biasanya dinyatakan dalam satu bulan atau satu tahun. Istilah upah biasanya mengacu pada pembayaran tenaga kerja buruh pabrik, baik yang memiliki keahlian ataupun tidak. Besaran upah biasanya dinyatakan dalam basis per jam atau per minggu.
Gaji atau upah pokok seorang karyawan dapat ditingkatkan dengan pembayaran komisi, pembagian laba, atau penyesuaian biaya hidup. Banyak perusahaan membayar bonus tahunan pada para manajernya sebagai tambahan terhadap gaji pokok. Jumlah bonus sering kali dihitung berdasarkan beberapa ukuran produktivitas, seperti penjualan atau laba perusahaan. Pembayaran biasanya dilakukan secara tunai atau transper ke rekening bank karyawan. Tetapi bias juga dilakukan dalam bentuk saham, fasilitas rumah, mobil atau tunjangan lainya. Secara umum, bentuk pembayaran tidak berpengaruh pada perlakuan terhadap gaji dan upah oleh perusahaan maupun karyawan.
v  POTONGAN ATAS PENGHASILAN KARYAWAN
Total penghasilan seorang karyawan untuk satu priode gaji, termasuk bonus dan lembur, disebut gaji kotor. Gaji kotor selanjutnya dikurangi berbagai potongan untuk mendapatkan angka gaji bersih. Gaji bersih adalah jumlah yang harus dibayarkan oleh perusahaan kepada karyawan. Potongan gaji kotor berupa pajak penghasilan yang biasanya merupakan potongan terbesar. Potongan lainnya dapat berupa iuran asuransi kesehatan, iuran dana pension, ansuran piutang pribadi karyawan kepada perusahaan. Dan hal-hal lain yang disetujui oleh karyawan.
ü  Jaminan Hari Tua Indonesia belum memiliki system jaminan social yang konfrehensif. Akan tetapi pemerintah membentuk perusahaan khusus, PT Jaminan Social Tenaga Kerja ( JAMSOSTEK ), yang menyediakan jaminan hari tua, yaitu pembayaran uang secara priodik sebagai antisipasi untuk karyawan yang pensiun , cacat fisik, atau berakirnya masa kerja.
ü  Jaminan Pemeliharaan Kesehatan adalah program jamsostek yang bersifat opsional ( tidak wajib ). Jadi, perusahaan yang mampu menyediakan program jaminan kesehatan yang lebih baik bagi karyawannya bias memilih untuk tidak mengikuti program JPK dari jamsostek.
ü  Pajak Penghasilan setiap pemberi kerja harus memotong sebagian dari penghasilan karyawan untuk  pajak penghasilan
ü  Penghasilan kena pajak dihitung berdasarkan penghasilan kotor – tunjangan jabatan,iuran untuk dana pensiun, iuran JHT karyawan dan penghasilan tidak kena pajak.
v  POTONGAN LAINNYA
Baik perusahaan maupun karyawan tidak dapat menghindari kewajiban dalam memotong PPH dari gaji kotor. Akan tetpi gaji karyawan juga dapat dipotong karena alas an tetentu, dengan seizing karyawan yang bersangkuta.
v  MENGHITUNG GAJI BERSIH KARYAWAN
Penghasilan kotor – potongan-potongan sama dengan jumlah yang dibayarkan kepada karyawan selama priode penggajian. Jumlah ini merupakan gaji bersih sering disebut take-home pay.
v  KEWAJIBAN PERUSAHAAN DENGAN PENGGAJIAN
Kebanyakan perusahaan juga dikenakan pajak penghasilan berdasarkan jumlah yang dibayar oleh karyawan kepada mereka. Selain itu, adapula kewajiban perusahaan lainnya terkait dengan gaji, yangdibuat berdasarkan jumlah yang dibayarkan karyawan mereka. Kewajiban semacam ini dijadikan menjadi beban operasi bagi perusahaan.
ü  Jaminan Hari Tua ( JHT ) iuran ini berasal dari pembayar gabungan oleh perusahaan dan karyawan, dimana besarnya bagian perusahaan adalah 3,7 %  dari gaji atau upah karyawan.
ü  Jaminan Kecelakaan Kerja ( JKK ) kecelakaan yang disebabkan oleh pekerjaan sehingga melukai karyawan merupakan tanggung jawab perusahaan yang dilindungi oleh jamina kecelakaan kerja.mamfaat seperti ini memberikan pembayaran untuk kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan.
ü  Jaminan Kematian adalah pembayaran oleh JAMSOSTEK yang memberikan kepada ahli waris karena kematian karyawan akibat sebagai sebab.

3.      SISTEM AKUNTANSI UNTUK PENGGAJIAN DAN PAJAK PENGHASILAN
Ketika merancang system penggajian , hal-hal yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah ketentuan-ketentuan pemerintah mengenai data gaji. Data gaji juga harus dijaga secara akurat dengan setiap priode penggajian dan untuk setiap karyawan. Laporan berkala dengan menggunakan data gaji harus disampaikan ke kantor pajak. Data gaji itu sendiri harus disimpan untuk kemungkinan adanya pemeriksaan oleh kantor pajak.
sistem penggajian harus dirancang agar dapat membayar gaji karyawan secara teratur, dan juga harus dirancang untuk menyediakan data yang berguna untuk keperluan pengambilan keputusan oleh manajemen.
Meskipun system penggajian setiap perusahaan berbeda-beda, elemenutama yang umum untuk kebanyakan system tersebut adalah

            REGISTER GAJI
Register gaji adalah laporan dengan banyak kolom yang digunakan untuk merangkum data untuk setiap priode pembayaran gaji. Bentuknya bervariasi menurut jumlah dan golongan karyawan dan sejauh mana computer digunakan dalam system penggajian.

4.      TUNJANGAN KARYAWAN
Bayak perusahaan menyediakan berbagai tunjangan sebagai tambahan atas gaji atau upah yang diproleh kepada karyawannya. Tunjangan dapat diberikan dalam sebagai bentuk, termasuk cuti, tunjangan kesehatan, dan tunjangan pascakerja.
Saat perusahaan membayar sebagian atau seluruh biaya tunjangan karyawan, biaya-biaya tersebut harus diakui sebagai beban. Untuk mengaitkan pendapatan dan beban dengan benar, estimasi biaya tunjangan harus dicatat sebagai beban selama priode dimana karyawan menerima tunjangan tersebut.
CUTI YANG DIBAYAR PERUSAHAAN
Kebanyakan perusahaan memberikan hak cuti, yang kadang kala disebut cuti berbayar, kepada karyawan mereka. Gaji karyawan tetap dibayar oleh perusahaan selama karyawan cuti. Hal seperti ini menambah kewajiban. Kewajiban untuk cuti berbayarnharus diakui sebagai kewajiban saat hak cuti diterima.

DANA PENSIUN
Pensiun mencerminkan pembayaran tunai untuk karyawan yang telah pensiun. Hak untuk mendapatkan uang pensiun diproleh karyawan selama masa kerja, berdasarkan skema pensiun yang ditetapkan oleh perusahaan. Salah satu karakteristik dasarnya adalah apakah skema tersebut merupakan skema dengan iuran pasti atau skema dengan mamfaat pasti.
Skema Pensiun Iuran Pasti ( Efined Contribution Plan ) dalam hal ini, uang dalam jumlah tetap diinvestasikan atas nama karyawan selama  masa kerjanya. Merupakan hal yang biasa bagi karyawan dan perusahaan untuk sama-sama membayar iuran.
Biaya yang ditanggung perusahaan dalam skema iuran pasti didebet sebagai beban pensiun.
Skema Pensiun Mamfaat Pasti (Defined Benefit Plan ). Perusahaan dapat memilih untuk menjanjikan kepada karyawannya berupa tunjangnpensiun tahunan yang besarnya tetap pada saat pensiun.

5.      KEWAJIBAN KONTINJENSI
Beberapa transaksi yang dibuat dimasa lalu akan akan menghasilkan kewajiban jika beberapa pristiwa tertentu terjadi dimasa mendatang. Kewajiban pontensial semacam ini disebut kewajiban kontinjensi atau kewajiban bersyarat
Jika kewajiban kontenjensi kemungkinan akan timbul, dan jumlah kewajiban ini dapat diestimasi secara wajar, maka kewajiban harus dicatat. Biaya garansi untuk 30.000 km pertama atas pembelian mobil kijang innova adalah contoh dari kewajiban kontinjensi yang dapat dicatat. Biaya garansi dianggap mungkin timbul karena perbaikan-perbaikan yang dicakup oleh garansi memang diperlukan beberapa kendaraan. Biayanya dapat diestimasi dari pengalaman garansi sebelumnya.


BAB III KESIMPULAN

1.      Kewajiban lancar adalah kewajiban yang akan dibayarkan dari aset lancar dan jatuh tempo dalam waktu singkat, biasanya dalam satu tahun.
2.      Kewajiban perusahaan atas gaji ditentukan dari total penghasilan karyawan, termasuk lembur dari jumlah ini, kemudian dikurangi potongan atau pendapatan jumlah gaji bersih yang akan dibayarkan kepada karyawan kebanyakan perusahaan juga memiliki kewajiban atas gaji, seperti iuran untuk jaminan hari tua, jaminan kematian, dan kecelakaan kerja.
3.      Register gaji digunakan untuk penyusutan dan merangkum data yang diperlukan untuk setiap priode pembayaran gaji. Register gaji didukung oleh catatan penggajian yang rinci untuk setiap karyawan. Yang disebut catatan penghasilan karyawan.
4.      Tunjangan karyawan adalah beban dalam priode dimana karyawan menerima tunjangan tersebut akan dicatat dengan mengkredit akun kewajiban.
5.      Kewajiban kontinjensi merupakan kewajiban potensial yang dihasilkan dari transaksi yang terjadi dimasa lalu tetapi bergantung pada pristiwa dimasa mendatang. Kewajibann kontinjensi kemungkinan besar akan terjadi dan besarnya dapat diestimasi, maka kewajiban tersebut harus dicatat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar